Ancaman dan hilangnya atau putusnya ekosistem burung-burung di Indonesia membuat saya prihatin atas hal ini, entah kenapa padahal saya sendiri penggemar burung berkicau, tapi saya sendiri masih mempunyai pemikiran bahwa sampai kapan eksploitasi burung-burung di Indonesia ini berhenti atau setidaknya berkurang dari perburuan besar-besaran.

Salah satunya yang saya khawatirkan adalah burung-burung sawah seperti, ciblek, prenjak, cici, atau sejenis burung-burung sawah lainnya.

Yang saya ungkap disini adalah burung Ciblek atau Prenjak dan burung sawah lainnya, burung ini dahulu masih sering dan banyak di dengar suaranya di alamnya, seperti di pepohonan rumah atau di sawah, namun belakangan ini sudah makin jarang di dengar di alamnya.

Sebelum tahun 1990-an, burung - burung sawah sejenis ciblek ini boleh dibilang tidak memiliki nilai ekonomi, sehingga banyak dibiarkan bebas dan meliar seperti halnya burung gereja dan burung pipit dan karena sifatnya yang mudah beradaptasi dan tidak takut pada manusia menyebabkan populasi burung ini cukup tinggi pada wilayah-wilayah yang sesuai.

Setelah tahun-tahun belakangan ini, burung ini mulai banyak diburu orang untuk diperdagangkan terutama di Jawa, apalagi burung ini mudah dijumpai di wilayah perkebunan dan memiliki keistimewaan mudah jinak, sifat jinaknya membuat ia mudah ditangkap dengan cara dipikat yaitu memakai bantuan cermin di dalam sangkar. Burung yang tertarik dengan bayangannya sendiri akan terjebak di dalam sangkar.

Cara lainnya dalam perburuan burung ini yaitu dengan memasang jerat atau rajut di sekitar sarangnya, atau dengan perangkap getah (pulut) pada tempat-tempat tidurnya di waktu malam, para penangkap burung yang terampil, bahkan, kerap hanya bermodalkan senter, kehati-hatian dan kecepatan tangan menangkap burung yang tidur di malam hari.

Bayangkan saja berapa jumlah yang di tangkap oleh para pencari burung-burung ini dalam semalam atau perharinya, itu perburuan dari satu wilayah saja atau daerah-daerah tertentu, belum lagi dari daerah yang lainnya se jawa atau se Indonesia, bisa di bayangkan setiap hari burung-burung ini di tangkap untuk dijual.

Semua itu terjadi karena banyaknya faktor dalam kehidupan ekonomi kita yang meyebabkan terjadi semacam eksploitasi burung-burung di hutan, belum lagi timbulnya tekanan terhadap habitat alami juga erat kaitannya dengan kemiskinan, pemanfaatan sumber daya dan lahan hutan, serta pengembangan pertanian, Faktor-faktor ini yang mendorong terjadinya kerusakan habitat, meningkatnya polusi, dan pemanfaatatan sumber daya alam secara berlebihan.

Kembali ke burung sawah yang banyak di buru secara besar-besaran, Sayang sekali burung ini mudah stres dan mati dalam pemeliharaan, terutama apabila yang ditangkap adalah burung dewasa, belum lagi jika pemeliharanya tidak berpengalaman, namun ini agaknya tidak menyurutkan minat para penangkap burung untuk terus memburunya, sampai sekarang, burung ini masih sulit untuk dibiakkan, Sejak Tahun 2010, salah seorang penghobi burung pekicau Iwan Lippo Cikarang berhasil menangkarkan ciblek.

Eksploitasi yang berlebihan sangat berbahaya bagi populasi ciblek, di wilayah-wilayah tertentu seperti di pinggiran Jakarta dan Bogor, kini seolah ‘kehabisan stok’ padahal sebelum tahun 90-an burung ini masih melimpah. Perenjak jawa semakin jarang terlihat di taman-taman, dan hadir terbatas di tempat-tempat tertentu yang masih dekat hutan.

Bagaimana dengan para kicau mania di Indonesia, apakah mempunyai pemikiran yang sama dengan saya, dan bagaimana nasib burung-burung sawah itu 10 hingga 15 tahun ke depan, apakah masih ada populasinya dan ekosistemnya di alamnya?
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: